Friday, June 15, 2012

Kenali Efek Samping Sering Konsumsi Antibiotik ...

Go4HealthyLife.com, Jakarta – Masih banyak pasien atau dokter yang beranggapan bahwa obat biasa tak cukup efektif dalam menyembuhkan suatu penyakit. Itulah mengapa banyak diresepkan antibiotik.

Tapi tahukah Anda bahwa terlalu sering mengonsumsi antibiotik justru akan menyebabkan tubuh kebal terhadap obat, dan efek ini baru akan hilang setelah setahun. Ini tentu berbahaya jika dalam periode itu kita mengalami penyakit serius yang butuh penangangan yang serius pula. Artinya, jika tubuh sudah kebal terhadap obat, maka obat apapun kemungkinan besar tidak akan bermanfaat lagi.

Lebih banyak antibiotik yang diresepkan untuk mengatasi batuk, flu atau infeksi saluran kencing, akan lebih banyak bakteri yang kebal, kata sekelompok peneliti Inggris yang menganalisis 24 studi sebelumnya yang mengamati resistensi antibiotik.

"Efek paling nyata terlihat setelah sebulan mengonsumsi antibiotik, tapi efek ini baru akan hilang sekitar setahun. Dan efek residu antibiotik inilah yang menjadi pemicu tingginya angka kekebalan terhadap obat di tengah masyarakat," ujar Alastair Hay, peneliti dari Bristol University, yang juga ketua tim peneliti riset ini.

Para ahli medis mengatakan pemakaian antibiotik berlebihan terjadi di Eropa, Amerika Serkat dan sejumlah negara kaya lainnya, dan fakta ini bakal mengancam upaya pengobatan penyakit serius, seperti bedah penggantian tulang pinggul, terapi kanker hingga perawatan di ICU.

Hay mengatakan studi ini menunjukkan bagaimana tingkat kekebalan terhadap obat semakin bertambah dan masalah ini kemudian diterjemahkan ke dalam masalah kesehatan serius pada komunitas atau masyarakat yang lebih luas.

Sebenarnya antibiotik diperlukan pada semua terapi atau pengobatan untuk mencegah infeksi bakteri, namun ini bisa saja menjadi sia-sia jika dipergunakan secara berlebihan, karena bakteri itu selalu punya cara untuk mengelabuinya, kata Hay dalam studinya yang diterbitkan di British Medical Journal.

Saat ini bakteri yang kebal terhadap multi obat itu sudah menjadi keprihatinan di banyak rumah sakit di seluruh dunia, dan itu ditandai dengan meningkatkan kasus infeksi "superbug" seperti methicillin-resistant Staphyloccus aureus (MRSA).


from : http://www.go4healthylife.com/articles/1451/1/Kenali-Efek-Samping-Sering-Konsumsi-Antibiotik/Page1.html

Daftar Makanan yang Efektif Menangkal Flu ...

Go4HealthyLife.com, Jakarta - Salah satu penyakit yang paling sering hinggap di musim penghujan adalah flu dan demam. Meski kelihatannya sepele, namun jika dibiarkan bisa mengganggu produktivitas lho.

Sebenarnya ada cara mudah untuk menangkal virus flu agar tak hinggap di tubuh, yaitu dengan cara meningkatkan kekebalan. Jenis-jenis makanan di bawah ini direkomendasikan oleh profesor gizi di Culinary Institute of America, Suki Hertz seperti dilansir  iVillage.com, untuk dikonsumsi agar kekebalan tubuh meningkat. Simak daftarnya ya:

1. Jeruk
Jeruk mengandung vitamin C dan antioksidan yang kuat tapi rendah kalori.

2. Telur
Kuning telur merupakan sumber yang baik dari mineral yang mendukung sistem kekebalan tubuh. Protein dalam putih telur memiliki kandungan yang sangat tinggi. Mengonsumsi telur, baik bagian kuningnya atau putihnya sangat membantu meningkatkan daya tahan tubuh. Untuk memberikan sistem kekebalan tubuh yang baik, gabungan antara telur panggang, bayam dan tomat mungkin bisa dicoba.

3. Tahu
Tahu adalah protein yang lengkap. Olahan dari kedelai ini merupakan sumber kalsium dan asam lemak omega-3. Semua kandungan yang ada dapat memperkuat sistem kekebalan tubuh.

4. Pepaya
Pepaya memiliki kandungan zat antiperadangan. Pepaya juga sumber yang sangat baik dari vitamin C. Buah ini mengandung beta karoten, sebuah fitonutrisi yang dapat diubah menjadi vitamin A dalam tubuh, menjaga mata dan mempertahankan kelembaban kulit.

5. Kiwi
Kiwi mengandung antara 90 dan 110 miligram vitamin C. Buah ini mengandung mineral yang penting untuk meningkatkan kekuatan otot dan saraf. Kiwi sangat baik untuk meningkatkan kekebalan tubuh karena mengandung flavonoid dan karotenoid sebagai antioksidan yang membantu kesehatan pernafasan, dan jantung.

6. Keju
Keju mengandung selenium, antioksidan kuat yang dapat memperkuat sistem kekebalan tubuh.

from : http://www.go4healthylife.com/articles/4922/1/Daftar-Makanan-yang-Efektif-Menangkal-Flu/Page1.html

Kapan Saatnya Tubuh Membutuhkan Antibiotik?

Go4HealthyLife.com, Jakarta - Penggunaan antibiotik tetap perlu untuk menjaga tubuh dari serangan kuman. Tapi bila tak hati-hati dalam mengonsumsi antibiotik, tubuh pula yang akan menjadi tumbalnya.

Pasalnya, penggunaan antibiotik yang tidak pada tempatnya bisa menciptakan kuman super. Untuk itu diperlukan kecermatan dan kehati-hatian sebelum memutuskan untuk mengonsumsi obat, terutama antibiotik.

Untuk memberikan resep antibiotik bagi pasiennya, dokter perlu melakukan pemeriksaan melalui laboratorium atau dengan mengamati sejumlah gejala tertentu.

Ada beberapa kondisi yang mengindikasikan sudah saatnya tubuh memerlukan antibiotik, antara lain:

1. Demam
Infeksi bakteri dapat memicu yang ditandai dengan kenaikan suhu tubuh, dan biasanya juga disertai dengan badan gemetar atau menggigil. Jika tidak ada tanda-tanda seperti ini, dokter biasanya tidak akan menulis resep antibiotik untuk pasiennya.

Tetapi perlu diingat, tidak semua demam selalu memerlukan antibiotik, terutama jika demam itu disebabkan oleh infeksi virus influenza. Infeksi flu tidak perlu antibiotik dan tidak bisa disembuhkan dengan obat, melainkan akan sembuh dengan sendirinya.

2. Sakit berkepanjangan
Infeksi virus influenza bisa diobati dengan antibiotik hanya jika flu ini tidak kunjung sembuh, yang dapat menyebabkan penyakit lain seperti infeksi sinus. Jika gejala flu tidak kunjung reda selama beberapa pekan, bisa saja dokter meresepkan antibiotik.

3. Dahak kekuningan
Warna dari sekresi pernapasan, seperti lendir dan dahak bisa menjadi pertanda jenis infeksi yang terjadi, apakah virus flu atau infeksi bakteri. Jika infeksi flu, maka lendir akan tetap bening dan tidak kental, sementara untuk infeksi bakteri lendir akan kental dan berwarna kekuningan atau kehijauan.

4. Tenggorokan sakit
Jika terjadi infeksi bakteri di tenggorokan akan ditandai dengan adanya bercak putih di tenggorokan yang sakit, dan tenggorokan biasanya akan berwarna merah. Kebanyakan demam diawali dengan tenggorokan yang sakit, tetapi kondisi ini tidak selalu diobati dengan antibiotik. Jika tengorokan yang sakit tidak ditandai dengan bercak putih, kondisi ini dapat diatasi dengan obat anti-peradangan.

5. Hasil uji laboratorium
Sebenarnya cara paling akurat untuk menentukan infeksi bakteri adalah dengan melakukan pengujian laboratorium pada sampel lendir atau air seni, tapi ini butuh banyak waktu dan biaya. Dokter bisa meresepkan antibiotik tanpa melakukan uji laboratorium jika tanda-tanda lain cukup kuat untuk membuktikan adanya infeksi bakteri.

from : http://www.go4healthylife.com/articles/3396/1/Kapan-Saatnya-Tubuh-Membutuhkan-Antibiotik-/Page1.html


Bookmark and Share

Bila Anak Demam Jangan Langsung Diberi Penurun Panas

Go4HealthyLife.com, Jakarta - Biasanya para orangtua akan panik jika mengetahui anak mereka mengalami demam, sehingga mereka akan langsung memberikan obat penurun panas.

Tapi sebenarnya para orangtua tak perlu terlalu cemas bila mendapati suhu tubuh anak mereka meningkat, demikian saran dari American Academy of Pediatrics (AAP) seraya mengingatkan orang tua bahwa demam biasanya hanya respons alami tubuh terhadap penyakit, dan menurunkan demam justru akan memperlama penyakit.

AAP merekomendasikan, secara umum orangtua hanya perlu mengobati demam jika kondisi itu membuat anak mereka merasa tidak nyaman.

"Demam adalah salah satu kondisi yang paling sering membuat orangtua menghubungi dokter atau penyedia layanan kesehatan. Para orangtua ketakutan, dan ditambah lagi dengan adanya banyak mitos tentang hal-hal buruk yang dapat terjadi ketika anak demam," kata penulis utama studi, Dr. Janice Sullivan, seorang profesor perawatan klinis pediatrik dan farmakologi klinis di University of Louisville School of Medicine dan Kosair Children's Hospital, di Kentucky.

"Kadang-kadang, orangtua berpikir bahwa jika mereka mengobati demam, anak mereka akan sembuh lebih cepat, tetapi demam adalah tanda penyakit, dan itu cara tubuh memperlambat kuman sehingga mudah menyingkirkan mereka. Demam adalah salah satu pemicu agar tubuh Anda menghasilkan lebih banyak sel darah putih. Jika Anda menurunkan demam, maka anak Anda tidak mungkin memproduksi banyak sel darah putih untuk melawan infeksi," jelasnya.

"Para keluarga perlu mengingat bahwa ketika seorang anak demam, itu merupakan gejala, bukan masalah utama. Demam dapat bermanfaat, jadi orangtua harus benar-benar mengetahui apa yang menyebabkan demam, bukan demamnya yang diobati," saran Dr. Basil Zitelli, dokter anak di Children's Hospital of Pittsburgh.

Laporan AAP, yang diterbitkan dalam jurnal Pediatrics edisi Maret, menunjukkan bahwa ketimbang berfokus pada angka di termometer, orangtua seharusnya melihat perilaku anak mereka apakah sudah perlu diberikan obat penurun panas atau belum.

"Jika anak Anda masih bisa makan dan minum dengan baik, dan masih terlibat dalam beberapa kegiatan - meskipun mereka mungkin tidak aktif seperti biasa - dan tidak tampak sangat tidak nyaman, biarkan tubuh anak menggunakan mekanisme pertahanan alaminya," kata Zitelli.

Di sisi lain, jika anak Anda tampak lesu dan tidak nyaman, Anda bisa menggunakan obat demam, seperti acetaminophen (Tylenol) atau ibuprofen (Advil, Motrin) sehingga anak Anda merasa sedikit lebih baik. Berikan obat ini sesuai anjuran dokter atau label dalam kemasan obat, yaitu berdasarkan usia anak dan berat badan.

Namun, AAP menyarankan agar berhati-hati ketika memberikan obat demam, karena bila kelebihan dosisi dapat mengancam jiwa. Apalgi, penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa sekitar 50 persen orangtua tidak memberikan anak-anak obat dengan dosis yang tepat.

Sullivan mengatakan bahwa sangat penting bagi orangtua untuk tidak memberikan anak-anak mereka dengan obat demam untuk orang dewasa, sekalipun dengan membelah tablet agar dosisnya benar. "Sangat penting untuk menggunakan obat yang sesuai dengan usia anak, dan gunakan alat pengukur yang sesuai," kata Sullivan.


Laporan AAP juga mengingatkan orangtua untuk tidak memberikan aspirin kepada anak-anak, karena penggunaannya telah dikaitkan dengan perkembangan kondisi yang berpotensi mengancam jiwa, yang disebut sindrom Reye. AAP juga tidak menyarankan untuk membasuh dengan alkohol untuk pendinginan, karena akan terlalu banyak alkohol yang diserap melalui kulit.

Secara umum, orangtua harus menghubungi dokter anak jika:

    * Seorang bayi di bawah 3 bulan dan mengalami demam hingga 38 derajat Celsius atau lebih.
    * Seorang bayi antara 3 dan 6 bulan mengalami demam hingga 38,6 derajat Celsius atau lebih.
    * Seorang anak berusia 1 tahun lebih yang mengalami demam hingga 39,4 derajat Celsius atau lebih.
    * Setiap anak yang menderita demam disertai dengan rasa lesu, sakit kepala, ruam kulit, sulit bernapas      atau dehidrasi.

from : http://www.go4healthylife.com/articles/3865/1/Bila-Anak-Demam-Jangan-Langsung-Diberi-Penurun-Panas-/Page1.html